Love these songs^^

Rabu, 21 Mei 2014

Sinopsis Big Man Episode 6 Part 2









Kang Sung Wook memulai rapat dengan para pemegang saham.  Salah seorang pemegang saham angkat bicara “Bagaimana dengan harga sahamnya? Apa anda akan membuat kami semua ini miskin?”. Kang Sung Wook meminta maaf pada para pemegang saham karena tidak bisa menyelamatkan perusahaan. Mi Ra menjawab panggilan yang masuk ke teleponnya lalu berbisik pada Ji Hyuk. Ji Hyuk meminta ijin pada Kang Sung Wook untuk mengatakan sesuatu dan Kang Sung Wook menjinkan Ji Hyuk. Ji Hyuk “Semuanya kumohon percayalah pada Hyun Sung Distribusi untuk terakhir kalinya. Barusan kami mendapat kabar dari Zaroque Korea. Sebagai rekan kerja mereka di Korea Hyun Sung Distribusi yang dipilih oleh mereka”. Para pemegang saham tidak tinggal diam mendengar kabar baik itu mereka segera menghubungi anak buah mereka untuk membeli saham dari Hyun Sung Distiribusi. Ji Hyuk tersenyum melihat reaksi para pemegang saham. Ahjussi yang kelihatan baik itu juga tersenyum melihat Ji Hyuk (Masih penasaran dengan Ahjussi yang satu ini…Hmmm siapa ya??)




Ahjussi yang kelihatan baik itu menyapa Kang Sung Wook yang baru keluar dari ruang pertemuan. Kang Sung Wook “Apa kabar Presiden Jo?” (Namanya Presiden Jo toh,heheheh). Presiden Jo “Kau memiliki seorang putera yang bisa dibanggakan, kau akan untung karena dia”. Presiden Jo tidak berbiacara banyak dan pergi





Ji Hyuk menandatangi kerja sama dengan Zaroque. Wajah Presiden Choi kelihatan tidak senag melihat Ji Hyuk yang berhasil. Ketua Zaroque berterima kasih pada Ji Hyuk. Mi Ra membantu mengartikan setiap kata yang ketua Zaroque katakan pada Ji Hyuk. Ji Hyuk juga mengucapkan terima kasihnya. Ketua Zaroque meminta izin untuk menggunakan video sebagai iklan di website mereka. Ji Hyuk tidak mengerti video yang dimaksud ketua Zaroque. Mi Ra memberitahu bahwa ia mengupload video fashion show itu. Ji Hyuk kaget karena tidak mengetahui fakta itu. Goo Duk Kyu “Apa mungkin alasan Zaroque berubah pikiran, karena video yang diunggah So Mi Ra?”. Presiden Choi membenarkan. Ji Hyuk senang mengetahui Mi Ra menyelesaikan masalah mereka. Ketua Zaroque “Apakah aku meminta terlalu berlebihan?”. Ji Hyuk “Tidak seilahkan saja”. Ketua Zaroque “Terima kasih. Aku benar-benar sangat puas dengan hasilnya. Karyawan anda mau bekerja sama”. Ji Hyuk tidak mengerti yang dikatakan ketua Zaroque dan Mi Ra mengartikannya lagi. Ji Hyuk meminta Mi Ra untuk memberitahu Mi Ra bahwa Mi Ra adalah karyawan terbaik. Mi Ra “Aku? Anda ingin aku mengatakan soal diriku sendiri?”. Ji Hyuk “Aneh? Kalau begitu aku yang akan bicara sendiri”. Ji Hyuk memberitahu Ketua Zaroque bahwa Mi Ralah karyawan yang paling terbaik dengan bahasa gado-gadonya.HAHAHAH


Ji Hyuk CS seang jalan bersama. Goo Duk Kyu memuji Mi Ra sebagai vacuum cleaner dari Ji Hyuk karen selalu membereskan masalah yang ditimbulkan Ji Hyuk. Ji Hyuk justru memuji dirinya sendiri karena telah memilih Mi Ra sebagai karyawannya dan Yoo Jae juga setuju dengan hal itu.



Dong Suk menelepon Ji Hyuk. Ji Hyuk menjawab teleponnya “Ya Dong Suk”. Dong Suk “Aku sudah mendengarnya. Kudengar kau menyelamatkan perusahaan. Kau ini malaikat dalam keluarga kita”. Ji Hyuk tertawa “Jangan berlebihan. So Mi Ra yang sudah melakukan semuanya”. Dong Suk “So Mi Ra?”. Ji Hyuk “Jadi begini sekarang yang kukhawatirkan adalah dirimu. Kau belum mendapat kabar lagi?”. Dong Suk “Belum. Ngomong-ngomong, aku senang kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Nanti kutelepon lagi”. Ji Hyuk “Baiklah, aku mengerti”. Ji Hyuk menutup teleponnya  “Astaga, seharusnya dia mengkhawatirkan dirinya sendiri. Kepalanya pasti sakit”





Dong Suk kelihatan berpiki tentang sesuatu (Kayaknya soal Mi Ra yang ngebantu Ji Hyuk). Myung Ho datang “Pewaris Hyun Sung Dong Suk, kan? Ah, sekarang tidak lagi. Kita tidak tahu siapa yang akan menjadi pewarisnya”. Dong Suk “Kau sudah mabuk. Jika kau sedang membual, pergilah ke tempat lain”. Myung Ho “Hati-hati, Hyung. Kakakmu bukanlah orang biasa. Dia tampak bodoh, kan? Dia itu ular. Mungkin akhirnya dia juga akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu. Hati-hati. Dialah yang menipu orang sepertiku”. Myung Ho pergi dan Dong Suk berbicara sendiri “Mungkin kita harus melihat siapa yang akan memakan siapa. Dong Suk akan meminum winenya lagi tapi tidak jadi. Ia menumpahkan minuman yang ada digelasnya dan menjatuhkan gelas itu lalu meminta pelayan untuk mengganti gelasnya karena menurutnya Myung Ho sudah mengotori gelasnya.





Jin Ah melihat biodata Ji Hyuk di internet dan sadar akan sesuatu. Ia berlari melihat piagam ayahnya dan mengetahui bahwa kedua orang tuanya tidak berada di korea pada tahun 1984 (Tahun kelahiran Ji Hyuk) karena ayahnya yang melanjutkan sekolahnya di luar negeri dari tahun 1983-1986


Jin Ah bertanya pada Ibunya untuk memastikan yang ia pikirkan. Jin Ah “Saat ayah kuliah pasca sarjana di Amerika ibu sudah bersamanya, kan?”. Choi Yoon Jung membenarkan. Jin Ah “Pasti menyenangkan”. Choi Yoon Jung “Iya. Itulah kenangan yang paling menyenangkan”. Jin Ah “Apa Ibu sering pulang pergi Korea saat itu?”. Choi Yoon Jung “Tidak. Kakekmu ingin ayahmu hanya fokus belajar. Jadi, kami tinggal lama di sana. Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?”. Jin Ah “Tidak apa-apa”




Sang Ho melapor bahwa uang yang Dong Suk berikan pada Ji Hyuk memang sudah disimpan di akun Ji Hyuk. Dong Suk “Kenapa dia melakukan itu?Jika jaksa menemukannya nanti . Itu akan menjadi masalah besar ”.  Sang Ho “Dengan begitu kemungkinannya masih bisa dipalsukan. Selama salinan aslinya masih ada”. Kang Sung Wook “Benarkah?”. Dong Suk “Memalsukan dokumen itu masih belum cukup. Jika ada orang yang mengaku kalau dia yang memalsukannya, kejaksaan akan setuju dan menerimanya, kan?”. Sang Ho “Benar”.Dong Suk “Karena salinan aslinya juga ada pada Ji Hyuk sekarang demi adiknya yang berharga”. Kang Sung Wook “Kau”. Dong Suk “Kenapa Ayah tidak mempercayaiku dan membiarkan aku yang mengurusnya?”. Kang Sung Wook “Aku tidak tahu apakah aku harus menepuk punggungmu atau memukul kepalamu”. Dong Suk “Sudah pasti ayah akan menepuk punggungku. Akulah satu-satunya putra ayah”. Kamg Sung Wook “Kau sudah dewasa, ya?”







Seorang kakek terlihat mengikuti Yoo Jae dan berbicara. Kakek itu”Kepala tim Choi. Kami sudah mempercayai Hyun Sung Mart dan kami sudah menghabiskan banyak yang untuk mendapatkannya. Kami sudah membeli mesin tambahan dan kami baru saja mengoperasikan pabriknya. Tapi jika anda tiba-tiba membatalkan kontraknya itu sama saja anda menyuruh kami mati”.  Yoo Jae “Omong kosong apa lagi ini? Mendadak bagaimana? Sudah kubilang kalian harus siap jika memang dibatalkan. Saat anda memberitahuku kemarin apa masuk akal untuk menyiapkan semuanya?”. Ji Hyuk dan Goo Duk Kyu yang lewat di situ melihat Yoo Jae dan kakek itu. Kakek itu memegang tangan Yoo Jae dan memohon untuk tidak membatalkan kontrak tapi Yoo Jae malah melepaskan tangannya dengan kasar dan membuat kakek itu jatuh. Ji Hyuk “Apa yang terjadi?”. Goo Duk Kyu “Kemungkinan ini menyangkut masalah kontrak. Setiap kali kontrak kami berubah, hal semacam ini sering terjadi”. Kakek itu masih terus mengikuti Yoo Jae dan meminta maaf. Ji Hyuk “Pria itu (Yoo Jae) pasti disuap, kan?”. Goo Duk Kyu “Maaf?”







Goo Duk Kyu dan Yoo Jae sedang menghadap Ji Hyuk yang sedang bermain game. Goo Duk Kyu “Presiden, Aku sudah mengawasi Manajer Choi sejak pertama kali dia bekerja di sini. Dia bukanlah karyawan rendahan yang akan menerima suap”. Ji Hyuk berhenti bermain game “Benarkah? Aku boleh bicara langsung dengannya”. Goo Duk Kyu “Silahkan”. Ji Hyuk “Kepala tim, kau mendapatkan suap atau tidak?”. Goo Duk Kyu “Ceritakan saja yang sebenarnya”. Ji Hyuk “Jangan gugup. Apa perlu kita letakkan tangan kita di dada dan bicara tidak ada yang kusembunyikan, aku tidak bersalah?”. Goo Duk Kyu “Tidak perlu begitu Presiden. Kita bukan murid SD kenapa kita harus melakukannya? Dia takkan pernah berbohong. Dia ke gereja setiap hari. Cepat katakan”. Yoo Jae meletakan tangannya di ketiaknya dan Ji Hyuk menegurnya. Ji Hyuk “Itu ketiakmu bukan dada”. Goo Duk Kyu “Apa-apaan kau ini?”. Yoo Jae memindahkan tangannya dan Ji Hyuk menegurnya lagi “Itu pundakmu”. Goo Duk Kyu tidak tahan lagi melihat Yoo Jae dan memindahkan tangan Yoo Jae tepat di dada Yoo Jae. Setelah memegang dadanya akhirnya Yoo Jae mengatakan yang sejujurnya bahwa ia memang menyembunyikan sesuatu dan minta maaf pada Ji Hyuk karena sudah menerima suap. Goo Duk Kyu juga meminta maaf pada Ji Hyuk. Ji Hyuk “Orang yang pantas mendapatkan permintaan maafmu bukanlah aku”. Yoo Jae “Ya?”



Kakek yang tadi bertemu Yoo Jae sedang duduk di depan perusahaan Hyun Sung dan berbicara di telepon “Apa? Tidak, pasti takkan berhasil. Kalau pria berkuasa itu bilang begitu, kita bisa apa? Cepat hentikan. Dan apa ada tempat yang mau meminjami kita uang? Cari saja terus. Meskipun bukan dana utama kita tetap harus membayar gaji karyawan”. Yoo Jae datang dan langsung meminta maaf pada kakek itu. Kakek “Kenapa tiba-tiba anda bertingkah seperti ini?”. Yoo Jae “Kurasa aku sudah terlalu lama menjadi pria yang berkuasa. Bagi seseorang yang usianya sama seperti ayahku sikapku tadi sangat kasar. Aku sangat menyesal”. Kakek itu masih bingung.



Ji Hyuk juga datang dan meminta maaf pada kakek itu. Yoo Jae “Kami anggap pembatalan kontrak itu tidak pernah terjadi. Aku akan mengirimkan kelanjutan kontraknya besok pagi”. Kakek itu sangat bahagia mendengar kabar itu dan berterima kasih pada Yoo Jae. Yoo jae berjanji tidak akan mengulang kejadian itu lagi. Ji Hyuk belum puas melihat Yoo Jae yang berjanji dan meminta Yoo Jae untuk meletakkan tangannya di dada (HAHAHA). Yoo Jae meletakkan tangannya di dadanya dan berjani dengan sepenuh hati “Aku takkan pernah membiarkan hal ini terjadi lagi! Aku bersumpah”. Ji Hyuk “Dia sudah berjanji, jadi jangan khawatir”. Kakek itu juga berterima kasih pada Ji Hyuk. Ji Hyuk “Hati-hati di jalan”. Ji Hyuk dan Yoo Jae kembali ke dalam perusahaan dan kakek itu segera menghubungi anak buahnya “Sekarang, jalankan pabriknya. Nyalakan lagi mesin-mesinnya. Sekarang kita aman”.


Mi Ra masuk ke dalam ruangan Ji Hyuk yang kosong. Mi Ra berdiri di depan meja Ji Hyuk dan berbicara dalam hatinya “Presiden. Sekarang anda bisa kembali ke tempatmu. Aku juga akan kembali ketempatku. Terima kasih atas semuanya dan maafkan aku”





Dae Sub membukakan pintu untuk Jin Ah. Jin Ah bertanya dimana Ji Hyuk dan langsung masuk tanpa membuka sepatunya. Dae Sub mengikuti Jin Ah yang masuk tanpa ijin dan menggunakan sepatu “Nona, kau ini siapa? Kau bahkan tidak melepas sepatumu? Hei, kau”. Jin Ah membuka kamar Ji Hyuk tapi Ji Hyuk tidak berada di kamar. Jin Ah membuka lagi kamar mandi dan masuk kedalamnya. Terdengar suara Ji Hyuk yang menyuruh Jin Ah keluar karena ia sedang BAB (HAHAHAH). Terdengar juga suara teriakan Ji Hyuk seperti orang yang kesakitan. Jin Ah keluar dari kamar mandi dan membawa beberapa helai rambut Ji Hyuk lalu keluar dari rumah Ji Hyuk. Dae Sub tidak percaya melihat kelakuan Jin Ah. Ji Hyuk keluar dari dalam kamar mandi “Wanita itu Psycho”. Dae Sub “Hyung, siapa wanita itu?”. Ji Hyuk “Adikku”




Mi Ra melihat Jin Ah yang baru keluar dari rumah Ji Hyuk. Mi Ra “Agassi”. Jin Ah “Unni.. Kenapa kau ada di sini?”. Mi Ra “Aku tinggal di sini”. Jin Ah “Kau juga tinggal di sini? Dimana rumahmu?”. Mi Ra menujuk rumahnya. Jin Ah “Apa-apaan ini? Kalian juga tinggal berdekatan. Kenapa bisa begini? Apa ini kebetulan? Konyol sekali. Ah. Dia yang pindah kesini agar bisa tinggal berdekatan denganmu, kan? Jika tidak, apa kau yang duluan menyukainya?”. Mi Ra “Tidak, bukan begitu”. Jin Ah “Lagipula, kau takkan menyukai orang gila seperti dia. Jika memang begitu pasti akan benar-benar buruk. Bukankah begitu?”. Mi Ra “Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Sungguh tidak akan ada yang terjadi” . Jin Ah “Aku juga tidak mau terlibat. Aku pergi dulu. Ah, tidak ada masalah dengan kakakku, kan?”. Mi Ra mengangguk dan Jin Ah pun pergi





Dong Suk akan meminum obatnya dan Jin Ah pulang. Dong Suk “Hei, kau dari mana?”. Jin Ah “Aku sibuk”. Dong Suk mengatakan pada Jin Ah agar jangan bermain-main dan harus belajar kerja karena Jin Ah yang menggantikannya kalau ia tiba-tiba meninggal. Jin Ah “Astaga. Karena kau sakit biasa kau seenaknya saja bilang begitu, hah? Aku tak mau bicara denganmu. Tunggu. Apa aku harus memberitahumu supaya kau sadar dan berhati-hati? Tepat di depan rumah Mi Ra kau tahu siapa yang tinggal di sana? Kakakmu, Kang Ji Hyuk. Kau mungkin harus lebih berhati-hati. Kang Ji Hyuk, dia punya pesona untuk memikat banyak orang”. Dong Suk tidak jadi meminum obatnya, ia kelihatan memikirkan kata-kata Jin Ah




Dong Suk bermimpi buruk tentang dirinya yang memakai oksigen dan merasa kesakitan karena jantungnya. Dong Suk pun bangun dan Choi Yoon Jung juga masuk ke kamar Ji Hyuk. Choi Yoon Jung “Kau sudah bangun?”. Dong Suk “Ibu. Sekarang aku masih hidup?”. Choi Yoon Jung “Tentu saja”



Mi Ra membersihkan rak buku di rumahnya dan menemukan surat perekrutan dari Ji Hyuk. Mi Ra membuka surat tersebut dan tersenyum, lalu membuangnya. Di saat yang bersamaan telepon Mi Ra berbunyi dan Mi Ra mengangkatnya. Mi Ra “Iya, ini aku. Aku mau meneleponmu. Apa? Dimana?”

Mi Ra masuk ke dalam kamar Dong Suk dan mengambil sebuah amplop di dalam lemari penyimpanan Dong Suk.





Mi Ra masuk di salah ruangan yang berisi Dong Suk,  Myung Ho dan juga 2 pria lainnya yang sedang bermain judi dengan mempertaruhkan banyak uang. Mi Ra mendekat ke Dong Suk. Dong Suk “Kau membawanya?”. Mi Ra “Ya”. Dong Suk “Maaf. Aku meminta bantuanmu padahal kau bukan lagi tim FB”. Mi Ra “Tidak apa-apa. Aku akan segera kembali ke tim FB”. Dong Suk “Benarkah?”



Dong Suk dan Myung Ho melihat kartu yang mereka miliki. Dong Suk meminta amplop yang Mi Ra ambil. Dong Suk memberikan amplop itu pada Myung Ho dan Myung Ho membukanya. Myung Ho melihat isi amplop itu (Gak jelas isinya apa). Myung Ho “Apa ini Hyung?”. Dong Suk “Kenapa? Kukira taruhannya tanpa batas”. Myung Ho “Ini tidak lucu karena kami hanya bersenang-senang”. Dong Suk bertanya pada 2 pria yang lain “Apakah kalian bersenang-senang juga? Sekarang tidak ada lagi permainan dalam hidupku. Hidup atau mati”



Myung Ho dan ke dua pria lainnya keluar dari ruangan itu. Salah satu pria mengatakan bahwa Dong Suk kelihatan aneh karena berbicara seperti itu tapi Myung Ho berkata bahwa sekarang dimatanya, Dong Suk kelihatan penuh dengan kelemahan dan menjadi orang yang gampangan





Dong Suk memasukkan uang yang ia menangkan. Dong Suk “Aku sudah mendengar usaha kerasmu dalam penandatanganan kontrak dengan Zaroque”. Mi Ra “Ah, soal itu...”. Dong Suk “Kau bekerja sangat keras demi dia. Bukan begitu, kau bilang itu secara tidak langsung itu semua demi aku, Kau sudah sering mengatakannya. Meskipun sekarang agak membingungkan kenapa kau membuatku terus menunggu?”. Mi Ra “Tidak. Itu bukan alasan sepenuhnya”. Dong Suk “Apa maksudmu lebih dari itu?”. Mi Ra “Semuanya sudah selesai. Jika kau mau menunggu sebentar saja”. Dong Suk marah dan menaikkan suaranya “Menunggu lagi?”. Mi Ra “Tidak, secepatnya...”. Dong Suk “Kau tahu betapa pentingnya momen ini sekarang? Tiap kali aku menutup mataku saat tidur, aku khawatir hari esok. Saat aku tidur, jantung aneh ini mungkin berhenti dengan sendirinya!”. Mi Ra “Dong Suk”. Mi Ra “Tidak ada masa depan bagiku, Mi Ra.Sekarang saat aku membuka mataku momen inilah yang menjadi masalahku sekarang.Tapi kenapa kau memintaku menunggu terus menerus?”. Ji Hyuk berteriak “Kenapa aku harus menunggumu”. Mi Ra “Dong Suk, kumohon tenanglah”. Dong Suk “Aku tidak tahu kenapa kau sangat percaya diri dihadapanku. Kenapa? Kau membuatku tampak menyedihkan. Aku benar-benar tidak mengerti”. Mi Ra “Tidak bukan begitu”. Dong Suk “Seharusnya kau tidak perlu terlalu percaya diri dihadapanku. Kau ingat ayahmu adalah supir keluarga kami? Saat ayahmu meninggal kau tahu apa yang terjadi? Ayahmu menggelapkan uang dari perusahaan.”. Mi Ra “Apa?”. Dong Suk “Jumlahnya sangat banyak. Sangat banyak sampai membuat perusahaan goyah. Memang saat itu perusahaan kami tidak sebesar sekarang. Aku yakin dia pasti punya alasan, tapi dia sudah menggelapkan uang yang penting”. Mi Ra tidak percaya atas apa yang ia dengar dari Dong Suk. Dong Suk “Periksa saja sendiri. Itulah kenyataannya. Peristiwa itu juga ada di Koran” .Dong Suk berdiri dan berbisik di Mi Ra “Karena itu jangan terlalu percaya diri dihadapanku, Mi Ra”. Dong Suk pergi dan meninggalkan Mi Ra yang menitikkan air mata



Mi Ra yang menangis menelepon Ibunya dan menanyakan kebenarannya. Mi Ra bertambah sedih karena ibunya membenarkan hal itu. Di tempat lain, tepatnya di dalam busnya Ibu Mi Ra berbicara sendiri “Maafkan Mi Ra. Aku benar-benar minta maaf”. Ibu Mi Ra menangis “Suamiku. Aku juga minta maaf, suamiku”



Mi Ra berjalan di tengah derasnya hujan dan terus menangis. Sedangkan Ji Hyuk sedang merenungi perbuatannya pada Mi Ra




Hye Ra berlari ke rumah Ji Hyuk. Hye Ra masuk dan menyapa Ji Hyuk yang sedang gosok gigi. Ji Hyuk “Kau siapa?”. Hye Ra memperkenalkan dirinya sebagai adik Mi Ra dan Ji Hyuk langsung menghentikan aktifitas menggosok giginya (HAHAHA). Ji Hyuk “Kau ini adiknya Mi Ra? Wah, kau tinggal dengannya sekarang. Ngomong-ngomong, kenapa kau kesini pagi-pagi begini? Kau butuh sesuatu?”


Ji Hyuk keluar dari apotek dengan membawa obat. Ia berpikir sebentar dan kembali masuk ke dalam apotek itu lalu membeli banyak obat


Dong Suk keluar dari kamarnya. Choi Yoon Jung sudah menyiapkan obat Dong Suk dan menyuruh Dong Suk untuk meminum obatnya. Dong Suk “Masalah ini lebih penting daripada minum obat”. Dong Suk berjalan pergi dan tidak mengiharukan ibunya. Choi Yoon Jung “Apa katamu, Dong Suk? Kau harus tetap minum obat ini, Dong Suk “Yang kuperlukan sekarang bukan obat-obatan itu”





Mi Ra yang terbaring sakit, bangun dari tidurnya “Hye Ra, Bisa tolong ambilkan air?”. Ji Hyuk memberikan air pada Mi Ra. Mi Ra “Presiden”. Mi Ra duduk karena melihat Ji Hyuk. Mi Ra “Kenapa anda ada di sini?”. Ji Hyuk “Tidurlah. Keringatmu banyak. Sekarang ini istirahat adalah hal yang paling baik”. Mi Ra “Bagaimana dengan perusahaan?”. Ji Hyuk “Kalau tidak ada vacuum cleaner yang membersihkan kotoran yang kubuat apa gunanya bekerja? Keadaanya hanya akan menjadi lebih kotor”. Mi Ra tersenyum “Bagaimana dengan Hye Ra ?”. Ji Hyuk “Aku baru saja menyuruhnya membeli makanan. Sekarang, karena kau sudah bangun minumlah obat ini dan tidur”. Ji Hyuk menerangkan setiap obat yang ia beli pada Mi Ra. Mi Ra “Anda membeli semua obat yang ada di apotek, kan?”




Mi Ra meminum obatnya dan meminta Ji Hyuk untuk pulang. Ji Hyuk “Jangan khawatirkan aku dan tidur saja”. Ji Hyuk “Jangan bilang begitu, Ini perintah dari bosmu. Tidurlah”.Ji Hyuk membantu membaringkan Mi Ra “Cepat sembuh. Ini juga perintah dari bosmu. Jangan cerewet dan cepat tidur”. Mi Ra “Baik, aku mengerti”. Mi Ra menutup matanya dan tidur. Ji Hyuk memandang Mi Ra “Kau mendengarkanku saat aku memerintahkanmu?”



Jin Ah memberikan rambut Ji Hyuk pada seorang dokter dan memintanya untuk melakukan tes DNA pada rambut Ji Hyuk. Dokter itu “Kau menyulitkanku”. Jin Ah “Karena kau ini anak direktur kepala, bukankah kau bisa melakukan hal semacam ini? Lakukan saja, bagaimanapun caranya”. Dokter itu “Baiklah, aku pergi”




Mi Ra sudah baikan dan bangun. Ia melihat Ji Hyuk yang menggenggam tangannya dan sedang tidur. Di saat yang bersamaan Dong Suk sampai di rumah Mi Ra dan masuk ke rumah Mi Ra









Mi Ra mencoba melepaskan tangannya dari tangan Ji Hyuk. Ji Hyuk sadar kalau tangan Mi Ra bergerak dan menggenggam tangan Mi Ra dengan lebih erat lagi. Ji Hyuk membuka matanya dan menarik Mi Ra ke arahnya lalu mencium Mi Ra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar