Love these songs^^

Selasa, 29 Juli 2014

Marriage Not Dating Episode 4 Part 2








D-DAY
Ibu Jang Mi masuk ke kamar puterinya dan membangunkan Jang Mi yang masih tertidur pulas. Ibu Jang Mi “Jang Mi bangun! Bangun!”. Jang Mi “Aku tidak mau”. Karena Jang Mi masih mengantuk Ibu Jang Mi berinisiatif untuk mencarikan baju untuk Jang Mi. Ibu Jang Mi memeriksa semua baju Jang Mi tetapi menurutnya tidak ada yang cocok dan bagus untuk Jang Mi. Jang Mi “Aku sudah memilih bajuku tadi malam”. Ibu Jang Mi “Benarkah? Coba aku lihat”. Jang Mi bangun dan membuka selimutnya “Aku sedang memakainya sekarang”. Ibu Jang Mi lemas melihat Jang Mi yang hanya memakai pakaian rumah dan celemek.




Jang Mi keluar dari rumahnya dengan sangat percaya diri. Ibu Jang Mi “Hei ! Hei !  Jang Mi! Jang Mi! Kau kesana dengan penampilan seperti kau baru bangun tidur?”. Jang Mi “Aku akan buat pancake seharian nanti. Kenyamanan adalah yang terbaik”. Ibu Jang Mi “Tapi tetap saja kau akan bertemu keluarga besan”. Jang Mi “Aku ingin penampilan dengan konsep rajin”. Ibu Jang Mi “Yang penting, berjuanglah! Fighting anakku”. Ayah Jang Mi “Ada apa denganmu?”. Ibu Jang Mi tidak mau menjawab pertanyaan suaminya dan masuk kembali ke rumahnya




Jang Mi sampai di rumah orang tua Ki Tae.  Ibu Ki Tae bingung melihat penampilan Jang Mi. Jang Mi tersenyum dan memberikan salamnya “Apa kabar? Di sini sepi sekali. Belum ada yang datang ya?”. Ibu Ki Tae “Para tamu datang malam nanti”. Jang Mi “Dimana nenek Ki Tae dan bibi?”. Ibu Ki Tae “Sedang pijat”.





Jang Mi kaget saat masuk ke dalam dapur  dan meihat banyaknya pekerjaan yang harus Ibu Ki Tae lakukan “Semua ini sendirian saja?”. Ibu Ki Tae “Aku senang kau datang di sini. Tapi di mana kastanya nya?”. Jang Mi “Oh!  Ki Tae yang akan membawanya”. Ibu Ki Tae “Ki Tae?”. Jang Mi “Kami mengupasnya bersama”. Ibu Ki Tae “Kau membuat dokter mengupas kastanya?”. Jang Mi “Aku pulang larut malam”. Ibu Ki Tae “Dia selalu mengoperasi orang. Bagaimana jika dia melukai tangannya?”. Jang Mi “Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Tapi dia sangat hebat mengupasnya! Aku penasaran dari mana dia belajar!”. Ibu Ki Tae “Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak meminta bantuanmu”. Jang Mi merasa tidak enak “Bukan seperti itu”. Ibu Ki Tae memakai sarung tangan plastik “Aku selalu melakukan semuanya sendirian. Lebih mudah seperti sendirian. Kau beristirahat saja”. Jang Mi mengambil sarung tangan yang dipakai oleh Ibu Ki Tae “Tidak! Biar ku bantu. Aku akan melakukannya”



Kita beralih ke Nenek dan Bibi Ki Tae…^^
Bibi dan Nenek Ki Tae sedang menikmati pijat dan maskeran. Bibi Ki Tae “Ibu, kau pikir dia akan datang?”. Nenek Ki Tae “Tentu”. Bibi Ki Tae “Dia akan membuat kerusakan yang parah”. Nenek Ki Tae “Itulah yang diinginkan Bong Hyang”. Bibi Ki Tae “Ibu, ayo kita pulang. Kita bisa kelewatan semua kesenangan nanti”. Nenek Ki Tae “Itu sama sekali tidak menyenangkan. Dia membuat pancake yang sangat enak”. Bibi Ki Tae “Baiklah”





Di bawah terik matahari yang panas, Jang Mi sudah berada di halaman rumah Ki Tae dan menggoreng berbagai macam pancake



Jang Mi kelihatan kelelahan tetapi ia terus berusaha untuk menyelesaikan tugasnya, didalam hatinya ia bertanya “Kenapa aku bekerja keras sekali begini?”. Jang Mi mengambil ponselnya dan menghubungi Ki Tae.



Ki Tae yang baru masuk di restoran Hoon Dong menjawab telepon dari Jang Mi “Halo?”. Jang Mi “Kau dimana?”. Yeo Reum menanyakan pesanan Ki Tae dan Ki Tae menjawab bahwa ia akan memesan jus anggur hijau. Jang Mi kesal “Apa? Aku mati-matian membantu keluargamu. Kau malah menikmati minuman di restoran? Menyegarkan?”. Ki Tae “Bakar saja semua itu atau hancurkan sampai jadi bubur”. Jang Mi “Aku tidak bisa bermain dengan makanan. Kenapa kau belum datang?”. Ki Tae “Kerjaanku belum selesai”. Jang Mi “Aku malah ambil cuti hari ini. Hidup pernikahan memang tidak adil, ya?”. Ki Tae “Siapa yang peduli? Kita tidak akan benar-benar menikah”. Jang Mi “Aku tidak akan sejauh ini, Jika itu sungguhan!”. Ki Tae “Sabarlah atau apapun...”. Jang Mi merengek “Cepat ke sini. Jangan lupa kastanya nya”. Ki Tae “Baiklah”.




Yeo Reum memberikan pesanan Ki Tae “Ini”. Ki Tae “Terima kasih”. Saat Ki Tae berbalik Hoon Dong tiba-tiba muncul dan memperingatkan Ki Tae untuk tidak menyakiti Jang Mi. Ki Tae dengan santai menjawab “Aku mengerti”. Hoon Dong “Kau tidak merasa bersalah ya? Aku duluan yang bersamanya. Jika kau memang temanku, jangan dekati dia!”. Ki Tae “Maaf, tapi Ibuku mencintainya. Dia malah sedang memasak untuk ritual keluarga sekarang”. Yeo Reum melihat ke arah Ki Tae saat mendengar Jang Mi yang memasak di keluarga Ki Tae. Hoon Dong “Tidak mungkin. Kau kan ingin tetap melajang. Kau sungguh akan menikahinya?”. Ki Tae tidak menjawab pertanyaan Hoon Dong, ia tersenyum pada Hoon Dong lalu keluar dari restoran.






Jang Mi mengangkat pancake terakhir yang ia goreng, ia sangat senang karena akhirnya tugas yang ia kerjakan dari tadi selesai juga. Jang Mi pun merenggangkan badannya dengan berbagai jurus (HAHAHAH). Saat ia masih dalam posisi yang aneh, Nenek dan Bibi-Bibi Ki Tae masuk.




Jang Mi kaget saat melihat Nenek dan Bibi-bibi Ki Tae masuk, ia kembali ke posisi berdiri dan memberi salam kepada mereka. Bibi A “Apa dia pembantumu?”. Bibi Ki Tae “Hei, dia pacarnya Ki Tae”. Bibi-bibi Ki Tae tidak percaya mendengar Jang Mi adalah pacar Ki Tae. Nenek Ki Tae “Ayo kita ngobrol di dalam saja”. Nenek Ki Tae memegag tangan Jang Mi “Melelahkan, ya?”. Jang Mi “Tapi, aku senang. Bibi-bibi yang lain sudah ada disini”






Bibi-bibi dan Nenek Ki Tae sudah duduk diruang tamu, mereka sedang menikmati pancake buatan Jang Mi dan tertawa serta bercerita sedangkan Jang Mi dan Ibu Ki Tae masih bekerja didapur.


Jang Mi kesal karena tidak ada satupun  yang membantunya dan Ibu Ki Tae. Jang Mi yang sedang mencuci piring mengeluh “Ini tidak adil. Mereka hanya memakan pancake”.Terdengar suara permintaan dari ruang tamu “Unni, anggur berasnya!”. Ibu Ki Tae “Mereka bukan memakan pancake saja”.





Ibu Ki Tae membuka kulkas dan membawakan anggur beras untuk Bibi-bibi Ki Tae. Terdengar lagi permintaan dari Bibi Ki Tae “Semuanya sudah dingin. Panaskan saja! Tidak ada pancake tiram ya? Udang goreng! Kapan makan malamnya? Aku kelaparan!”. Jang Mi berbicara sendiri “Adegan terburuk akan terjadi sebentar lagi. Kapan aku melakukannya ya?”





Ponsel Jang Mi berbunyi, Jang Mi menjawab sambil berbisik-bisik “Halo”. Yeo Reum “Aku sudah temukan tempat yang sangat terpencil”. Jang Mi “Maaf, aku akan telpon nanti”. Yeo Reum “Ayo ke sana. Kau pasti tidak bisa di lain hari”. Jang Mi “Aku agak sibuk sekarang”. Yeo Reum “Kau dimana?”. Jang Mi “De... Department store”. Bibi Ki Tae tiba-tiba ke dapur dan memanggil Jang Mi “Jang Mi! Bawakan kami buah!”. Jang Mi “Ya, Bibi! Maksudku pelanggan”. Bibi Ki Tae bingung “Pelanggan? Kenapa dia memanggilku begitu? Dia telponan sama siapa?”. Bibi Ki Tae yang penasaran, diam-diam mencoba menguping pembicaraan. Jang Mi “Aku tidak bisa keluar sampai tengah malam nanti”. Yeo Reum “Tidak apa. Aku akan menunggumu. Datanglah ke restoran”. Jang Mi “Restoran?”




Ki Tae yang baru sampai mendapati Bibinya yang sedang menguping pembicaraan Jang Mi. Ki Tae berteriak memanggil Jang Mi “Joo Jang Mi!”. Jang Mi kaget dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya kedalam washtafel dapur . Bibi Ki Tae juga kaget. Ki Tae berpura-pura tidak melihat Bibinya yang menguping “Bibi kau juga disini?”. Bibi Ki Tae “Hei, Ki Tae, kau pulang cepat. Sampai jumpa nanti”.





Jang Mi mengambil ponselnya yang sudah mati dari washtafel “Ponselku”. Ki Tae mendekat dan berbisik pada Jang Mi “Berhati-hatilah. Ada banyak orang yang mengawasimu”. Jang Mi “Ponselku mati”. Ki Tae “Kau selalu saja memakai ponsel bodoh itu”. Jang Mi “Kau juga selalu memanfaatkan orang! Tapi, ini berharga bagiku”. Ki Tae “Kau berisik sekali”. Jang Mi “Kau bawa kastanya?”. Ki Tae memberika kastanya yang ia bawa “Kau, istirahat saja. Kenapa bekerja? Apa yang kau lakukan disini?”. Jang Mi “Aku juga tidak tahu”.




Acara penghormatan pun di mulai, Ki Tae dan Ayahnya melakukan penghormatan untuk mendiang Kakek Ki Tae. Ibu dan Bibi-bibi Ki Tae juga berdiri untuk penghormatan sedangkan Jang Mi yang kelelahan berjongkok dibelakang Bibi-bibi Ki Tae. Jang Mi pun berdiri dan melihat Ayah Ki Tae, ia mengingat lagi Ayah Ki Tae yang selingkuh dan merasa marah pada Ayah Ki Tae




Keluarga Ki Tae dan Jang Mi sudah duduk bersama untuk makan malam. Jang Mi kelihatan tidak berselera untuk makan dan Ki Tae pun berbisik “Wajah jelek”. Jang Mi kesal dan meletakan sendoknya. Ayah Ki Tae “Makanlah. Aku dengar kau yang memasak semua pancake”. Jang Mi “Ya seperti itulah”. Ki Tae “Dia sedang tidak enak badan. Tuangkan dia minuman alkohol, ayah”. Bibi-bibi Ki Tae kaget “Minuman?”





Ayah Ki Tae menuangkan minuman untuk Jang Mi dan Ki Tae memberi kode untuk meminum itu. Jang Mi pun meminum alcohol yang diberikan Ayah Ki Tae dan meminta Ayah Ki Tae untuk menuangkannya lagi “Satu gelas lagi”. Bibi-Bibi Ki Tae mengalihkan pandangan mereka pada Jang Mi. Ki Tae tersenyum melihat Jang Mi. Ayah Ki Tae pun menuangkan Jang Mi minuman untuk kedua kalinya. Jang Mi meneguk minuman itu dengan sekali teguk dan kembali meminta Ayah Ki Tae untuk menuangkannya minuman “Tolong satu kali lagi”. Nenek, Ibu dan Bibi-Bibi Ki Tae kaget melihat kelakuan Jang Mi





Ayah Ki Tae tertawa dan menuangkan minuman untuk Jang Mi “Kau pasti merasa sangat stress”. Jang Mi minum dengan sekali teguk dan mengeluarkan semua unek-uneknya “Ya. Aku stres sekali. Apa kalian tidak merasa bersalah? Anak manja berhargamu ini, malah muncul terlambat”. Ki Tae berpura-pura membela diri “Aku mengupas kastanya semalaman”. Bibi Ki Tae “Kenapa kau melakukan itu?”. Jang Mi beralih ke Bibi Ki Tae “Bibi pergi untuk pijat relaksasi kan? Padahal ada orang lain yang pantas mendapatkannya”. Bibi Ki Tae “Ini agar mensucikan kami untuk ritual”






Jang Mi beralih ke Bibi-Bibi Ki Tae yang lainnya “Bibi-bibi yang datang kerjanya cuma ngobrol!”. Salah satu Bibi Ki Tae membela diri “Oh!  Sudah lama, kami tidak bertemu makanya kami ngobrol”. Jang Mi “Kami memang tidak ada hubungannya dengan Kakek Ki Tae, tapi Ibu dan aku sangat bekerja keras”. Nenek Ki Tae ingin berbicara tetapi Jang Mi memotong “Nenek juga pura-pura tidak tahu. Aku pikir kau baik. Aku sangat kecewa”. Ayah Ki Tae “Kami mengerti apa yang kau maksud”. Jang Mi menaikkan nada suaranya “Ayah kau yang terburuk ! Istrimu mengorbankan dirinya untuk semua orang! Tapi, apa yang kau lakukan?”. Ayah Ki Tae “Oh aku menulis”. Jang Mi “Aku tidak peduli kau menulis apa. Setelah kau mencampakkan keluargamu, kini istrimu. Apa yang kau lakukan di luar?”. Ayah Ki Tae “Aku tidak mengerti”. Jang Mi “Aku juga pernah di posisi itu. Saat orang tua tidak akur hati anak anak sangat terluka”. Salah satu Bibi Ki Tae “Apa lagi ini?”. Jang Mi melanjutkan “Aku melihat semuanya”. Ibu Ki Tae yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara “Hentikan. Bicaralah padaku”




Jang Mi pergi dari meja makan untuk berbicara dengan Ibu Ki Tae. Bibi A“Apa kalian punya masalah?”. Ayah Ki Tae “Tidak. Tidak sama sekali”. Bibi A Tae “Ki Tae kau tahu sesuatu?”. Ki Tae “Ini tentang orang tua Jang Mi. Mereka tidak akur”. Setelah menjawab pertanyaan salah satu Bibinya, Ki Tae juga pergi dari meja makan untuk melihat Jang Mi







Ibu Ki Tae memberitahu Jang Mi bahwa Jang Mi sudah keterlaluan. Jang Mi “Aku sungguh merasa kasihan padamu. Aku ingin membantumu”. Ibu Ki Tae “Memangnya, aku terlihat menyedihkan?”. Jang Mi “Kau tidak tahu”. Ibu Ki Tae “Aku bukan orang bodoh. Aku tahu semua yang terjadi di keluarga ini”. Jang Mi “Tidak. Kau tidak tahu. Kau bodoh jika membiarkannya saja”. Ibu Ki Tae menampar Jang Mi “Tutup mulutmu. Jangan katakan apapun”.  Jang Mi “Ibu, kau juga sudah tahu?”. Ki Tae melihat dan mendengar pembicaraan Ibunya dengan Jang Mi. Ibu Ki Tae “Kau tidak usah mengacau, mentang-mentang  kau sudah membantu sedikit. Kau pikir ini akan membuatmu jadi, bagian dari keluarga kami?”. Ki Tae juga mengingat saat ia mengatakan hal yang sama pada Jang Mi. Jang Mi merasa sakit hati diperlakukan seperti itu “Ya. Aku sangat salah paham. Aku pikir aku bagian dari keluarga ini. Karena kau bekerja keras denganku seperti keluarga. Orang sepertiku hanya punya kewajiban dan tidak ada hak. Benarkan? Ya, mana mungkin aku bisa hidup seperti mu? Aku memang bisa membuat pancake dan mencuci piring. Tapi, aku tidak bisa menyembunyikan kebenaran. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan tulusku seperti mu!”. Jang Mi tidak tahan lagi dan akhirnya pergi dari hadapan Ibu Ki Tae. Jang Mi berpapasan dengan Ki Tae yang daritadi memperhatikan mereka tetapi ia memutuskan untuk tetap pergi





Bibi- Bibi Ki Tae yang masih berada di ruang tamu sedang membicarakan Jang Mi”. Bibi A “Dia memberi kesan pertama yang buruk”. Jang Mi berhenti di ruang tamu dan mendengar pembicaraan Bibi-Bibi Ki Tae. Bibi B “Dia sepertinya orangnya labil. Ya, jika orang tua labil, maka anaknya akan seperti itu juga. Memangnya orang tuanya kerja apa?”. Bibi Ki Tae “Menjual minuman keras”. Bibi C “Omo! Itulah sebabnya dia banyak sekali minum tadi. Itu menjelaskan semuanya. Mereka keluarga yang sangat berbeda”. Ki Tae juga berhenti di belakang Jang Mi. Bibi A “Ki Tae pasti hanya akan menerima cinta dari keluarganya saja nanti. Memangnya dia bisa bertahan, saat yang di lakukan keluarga mertuanya bertengkar?”.





Jang Mi menangis mendengar semua perkataan Bibi- Bibi Ki Tae. Jang Mi berbalik pada Ki Tae “Kau menceritakan orang tuaku?”. Ki Tae mengangguk. Jang Mi “Jadi, bukan hanya aku. Kau juga melibatkan keluargaku dalam masalah ini?”. Ki Tae “Itu…”. Jang Mi “Kau pasti memanfaatkan sakit hatiku?”. Jang Mi yang dari tadi menahan amarahnya, akhirnya mengamuk dan memukul Ki Tae







Bibi-Bibi Ki Tae berusaha untuk melepaskan Jang Mi dan Ki Tae. Jang Mi mengambil ikan kering yang menjadi persembahan dan memukul Ki Tae dengan ikan kering itu. Jang Mi “Aku sudah bekerja sangat keras untukmu!”. Bibi-Bibi Ki Tae masih berusaha untuk menghentikan Jang Mi tetapi tidak bisa. Jang Mi yang marah bahkan mendorong Ki Tae sampai menghancurkan meja persembahan untuk Kakek Ki Tae. Ibu Ki Tae muncul “Apa-apaan ini?”. Jang Mi berhenti mengamuk dan melepaskan ikan kering yang ia pegang “Kau puas? Aku sudah melakukan tugasku. Aku akan pergi sekarang. Permisi”




Jang Mi keluar dari rumah Ki Tae tetapi Ki Tae malah mengejar Jang Mi “Tunggu sebentar”. Jang Mi tidak mendengarkan permintaan Ki Tae dan tetap berjalan. Ki Tae memegang tangan Jang Mi “Tunggu sebentar”. Jang Mi melepaskan tangan Ki Tae “Kita akan mengakhirinya dan aku sudah mengakhirnya sekarang. Apa lagi yang kau inginkan?”. Ki Tae tidak bisa berbicara lagi. Jang Mi pun berbalik pergi dan meninggalkan Ki Tae. Ki Tae “Joo Jang Mi”





Ki Tae masuk ke rumahnya dan mendengar Bibi-Bibinya yang sedang memprotes Jang Mi sebagai menantu dikeluarga mereka. Ki Tae berteriak “Tolong hentikan! Aku hanya akan menikah dengan Jang Mi. Jika kalian menolak, aku akan tetap melajang. Jadi, terima saja!”. Ibu Ki Tae “Kau”. Ki Tae merapikan kembali meja persembahan yang sudah berantakan. Bibi Ki Tae “Kau tidak normal. Kau lebih baik ke UGD lagi saja”. Bibi A “Meja ritual ayah jadi begini. Katakan sesuatu, Ibu!”. Nenek Ki Tae mengingat Jang Mi yang mengatakannya sebagai orang yang pura-pura tidak tahu. Nenek Ki Tae tersenyum “Ayahmu juga selalu memukul meja setiap kali dia marah.”. Nenek Ki Tae melihat foto suaminya “Kau layak mendapatkannya, Sayang”




Diatas taksi Jang Mi memeriksa ponselnya yang sudah mati. Ia mengingat Yeo Reum yang mengatakan akan menunggunya di restoran. Jang Mi pun meminta supir taksi untuk memutar arah





Jang Mi sampai di restoran Hoon Dong yang sudah tertutup. Jang Mi mengetuk pintu restoran tetapi tidak ada orang yang muncul dan ia pun berjalan pergi. Yeo Reum keluar dari restoran dan memanggil Jang Mi “Joo Jang Mi”. Yeo Reum menghampiri Jang Mi. Jang Mi “Kau menungguku ya? Kau kan tidak bisa menghubungiku”. Yeo Reum “Kan sudah kubilang, aku akan menunggu”. Jang Mi tersenyum





Bibi Ki Tae memberitahu Ibu Ki Tae tentang pembicaraan Jang Mi yang ia dengar tadi. Ibu Ki Tae “Bertemu di restoran?”. Bibi Ki Tae “Itu mencurigakan. Dia bicaranya berbisik dan terkejut. Ku pikir dia menyembunyikan sesuatu”. Ibu Ki Tae memutuskan untuk menghubungi seseorang “Maaf telah menelponmu selarut ini. Tapi, aku punya pertanyaan yang mendesak. Apa Hoon Dong sering menemui  seseorang belakangan ini?”. Ibu Hoon Dong yang sedang menyetir menjawab “Ada satu penguntit”. Ibu Ki Tae “Penguntit? Siapa namanya?”. Ibu Hoon Dong “Aku tidak ingat. Jail Mi Mi atau Jip, pokoknya aneh”. Ibu Hoon Dong “Kau bertemu dengannya?”. Ibu Hoon Dong “Ya, aku tidak pernah bisa melupakan si bodoh itu. Kenapa?”. Ibu Ki Tae “Kita bicara besok ya. Bagaimana kalau siang?”. Ibu Hoon Dong “Baiklah. Aku akan menunggumu di restoran Dong Hoon”





Yeo Reum dan Jang Mi sudah berada di dapur restoran Hoon Dong. Jang Mi meminum white wine dan melihat Yeo Reum yang sedang memasak untuknya. Yeo Reum mengambil wine yang diminum Jang Mi dan memasukkan kedalam masakannya “Sebentar”. Jang Mi “Kau diperbolehkan memasak di sini? Bagaimana jika Hoon Dong melihatmu?”. Yeo Reum mengmbalikan wine yang diminum oleh Jang Mi “Tidak akan”. Jang Mi meneguk lagi wine itu (Jang Mi kuat bingitts minum alcohol).







Yeo Reum memberikan spaghetti yang ia buat pada Jang Mi. Jang Mi mencoba masakan Yeo Reum dan tersenyum. Yeo Reum “Kau kesulitan ya di rumah Ki Tae Hyung?”. Jang Mi “Bagaimana kau tahu?”. Yeo Reum “Kau sangat ingin menikah ya?”. Jang Mi meneguk wine lagi “Aku tidak ingin menikah dengannya”. Yeo Reum “Lalu, apa?”. Jang Mi “Aku ingin membuat adegan yang buruk di sana. Tapi, malah jadi kenyataan yang tulus dari hatiku”. Yeo Reum “Tulus?”. Jang Mi “Tetapi ketulusanku sangat buruk. Adegan paling buruk”. Yeo Reum “ Kau benar benar punya perasaan pada Ki Tae Hyung?”. Jang Mi menggeleng “Tidak. Tidak ada hal seperti itu diantara kami”. Yeo Reum “Benarkah?”. Jang Mi Sebenarnya… Aku sebenarnya.. Benar-benar... benar-benar... Benar-benar... benar-benar... Khawatir padanya”. Jang Mi yang sudah mabuk tiba-tiba tertidur didepan Yeo Reum. Yeo Reum mencoba membangunkan Jang Mi tetapi Jang Mi tidak merespon. Yeo Reum pun merapikan rambut Jang Mi yang menutupi wajah Jang Mi “Tapi aku khawatir padamu”


Ki Tae tidak bisa tidur karena mengingat Jang Mi yang ditampar oleh Ibunya


Keesokan paginya…
Ibu Ki Tae keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam taksi “Ayo berangkat”


Ki Tae sedang menuju RSnya dan berbicara dengan Bibinya lewat telepon “Dia bertemu dengan Ibu Hoon Dong? Di mana, kapan?”. Bibi Ki Tae “Sekarang di restoran Hoon Dong. Hei! Biayanya double untuk info ini”.


Di restoran Hoon Dong yang masih belum terbuka, Jang Mi dan Yeo Reum masih terlelap dalam tidur mereka.


Ibu Ki Tae mengubungi Ibu Hoon Dong dan memberitahu bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju restoran Hoon Dong. Ibu Hoon Dong “Ya aku juga akan berangkat kesana”.




Ki Tae mencoba menghubungi  Jang Mi tetapi tidak bisa. Ki Tae “Ah iya ponselnya mati”. Ki Tae pun menancap gas mobilnya agar sampai di restoran sebelum Ibunya.





Saat Jang Mi dan Yeo Reum yang masih terlelap didalam restoran Hoon Doong, seseorang sampai dan membuka restoran Hoon Dong

Siapakah dia????